MATA VIVO – Puisi Melahirkan Republik Asyik Bernyanyi karya Muhammad Alfariezie memotret realitas sosial-politik Indonesia melalui lensa sastra kontemporer. Puisi ini menyuarakan kegelisahan tentang bangsa yang lahir dengan banyak keterbatasan, namun masyarakatnya cenderung permisif terhadap kondisi yang retak dan tidak ideal.
Dalam bait awal, penyair menggunakan metafora “ibu yang sedang sakit melahirkan republik” untuk menekankan bahwa republik ini lahir dalam kondisi penuh beban, baik dari sisi pendidikan, kepemimpinan, maupun kesadaran sosial masyarakat. Kondisi ini menjadi simbol bahwa sejak awal, republik mengalami “sakit” yang membatasi pertumbuhan dan perkembangan idealnya.
“Puisi ini menyoroti bukan sekadar kebodohan atau kepemimpinan yang lemah, tetapi kepasifan kolektif masyarakat. Kita tahu kebohongan mempengaruhi, kita menyadari dampaknya, tetapi tetap memilih diam,” ujar Muhammad Alfariezie saat ditemui di Jakarta, Jumat (20/12/2025).
Puisi tersebut menegaskan bahwa masalah utama bukan datang dari satu pihak atau golongan tertentu. “Kita tersandera! Bukan oleh seseorang atau golongan,” tulis Alfariezie. Kritik diarahkan pada sistem yang membiarkan kepasifan menjadi norma sosial. Masyarakat menikmati ironi dan kejanggalan negeri sambil tetap “asyik bernyanyi”, sebuah ungkapan simbolik atas kenyamanan palsu yang menggantikan tanggung jawab moral dan aksi nyata.
Lebih lanjut, puisi ini menyentil sikap masyarakat yang hanya mengamati dan berpikir tanpa bergerak. Bahkan dalam konteks doa, yang seharusnya menjadi bentuk refleksi dan harapan, masyarakat tampak enggan mengambil langkah proaktif. Kesadaran akan realitas yang menyakitkan justru tidak memicu perubahan, melainkan membiarkan keadaan tetap berjalan tanpa perbaikan.
Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, Melahirkan Republik Asyik Bernyanyi mengubah eksklusivitas sastra menjadi media kritik sosial-politik. Puisi ini mengingatkan bahwa krisis bangsa tidak selalu tercermin dari kegaduhan politik, melainkan dari keheningan yang dinikmati bersama, di mana banyak orang memahami masalah, tetapi sedikit yang berani bertindak.
Karya Alfariezie menegaskan pesan penting bagi pembaca: perubahan tidak akan terjadi hanya dengan menyadari masalah. Republik akan terus lahir, namun pertumbuhannya terhambat, selama masyarakat tetap nyaman dalam pasifitas, “asyik memandang dan berpikir” tanpa bergerak. Puisi ini menjadi refleksi kritis atas tanggung jawab kolektif dan kesadaran moral yang harus dibangkitkan demi masa depan bangsa.***










