MATA VIVO — SMA Negeri 3 Bandar Lampung sukses menggelar kegiatan In-House Training (IHT) guna memperkuat budaya literasi dan numerasi sekolah. Kegiatan yang mengusung tema “Penguatan Budaya Literasi dan Numerasi Sekolah melalui Peran Guru Berkarakter” ini berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 4 hingga 6 Juni 2026.
Acara yang dipusatkan diruang guru sekolah setempat ini diikuti secara antusias oleh seluruh dewan guru SMAN 3 Bandar Lampung.
Guna memberikan pemahaman yang komprehensif, pihak sekolah menghadirkan tiga narasumber ahli di bidangnya. Mereka adalah Drs. Sukisno, M.Pd. selaku narasumber utama, Miftahul Azis, M.M., M.T.I. sebagai narasumber kedua, serta Dra. Heni Suryati, M.Pd. selaku pengawas pembina sekaligus narasumber ketiga.
Kepala SMAN 3 Bandar Lampung, Tri Winarsih, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan IHT ini memiliki tujuan yang sangat strategis untuk masa depan mutu pendidikan sekolah.
“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pedagogis dan profesional dewan guru dalam mengintegrasikan literasi dan numerasi ke dalam proses pembelajaran. Kami ingin memastikan setiap mata pelajaran mampu mengasah kemampuan berpikir kritis siswa melalui penguatan konsep literasi dan numerasi yang inklusif,” ujar Tri Winarsih.
Beliau juga menegaskan pentingnya peran guru sebagai teladan utama dalam membentuk ekosistem sekolah yang cerdas dan berkarakter.
“Guru adalah kunci utama perubahan. Sebelum kita menuntut peserta didik untuk literat dan cakap numerasi, kita sebagai pendidik harus terlebih dahulu menjadi fondasi dan contoh yang kuat. Melalui karakter guru yang berintegritas, kreatif, dan berwawasan luas, transformasi budaya belajar ini akan jauh lebih mudah tercapai,” kutipnya.
Melalui pelatihan intensif bersama ketiga narasumber tersebut, Kepala Sekolah menaruh harapan besar kepada seluruh jajaran pendidik yang menjadi peserta. Beliau berharap ke depan, para guru tidak hanya berhenti pada tataran teori, melainkan langsung mengimplementasikan ilmu yang didapat ke dalam perangkat pembelajaran dan aksi nyata di ruang kelas. Guru diharapkan mampu menciptakan inovasi mengajar yang menyenangkan dan tidak monoton.
Di akhir penjelasannya, Tri Winarsih menitipkan pesan mendalam bagi dewan guru dalam mengembangkan budaya literasi, baik di lingkungan internal maupun eksternal sekolah.
“Saya berpesan kepada seluruh dewan guru agar tiada henti menumbuhkan minat baca dan daya nalar kritis peserta didik. Jangan batasi literasi hanya di dalam ruang kelas atau lingkungan sekolah saja. Bimbinglah anak-anak kita agar mampu menerapkan kemampuan literasi mereka di luar sekolah—baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat—sehingga mereka menjadi generasi yang adaptif, bijak dalam menyaring informasi, dan siap menghadapi tantangan global,” pungkasnya. (Vivo Trialito)










