• Tentang Kami
Saturday, March 28, 2026
MATAVIVO.ID
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus
No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus
No Result
View All Result
MATAVIVO.ID
No Result
View All Result
  • Hiburan & Gaya Hidup
  • Lingkungan & Energi
  • Olahraga
  • Pendidikan & Kesehatan
  • Politik & Pemerintahan
  • Sosial & Budaya
  • Teknologi & Digital
Dengan Puisi Hikayat Sinar yang Disangkal, Muhammad Alfariezie Hadirkan Liris Kontemplatif yang Mendalam

Dengan Puisi Hikayat Sinar yang Disangkal, Muhammad Alfariezie Hadirkan Liris Kontemplatif yang Mendalam

Melda by Melda
November 24, 2025
in Bandar Lampung

MATA VIVO– Puisi Hikayat Sinar yang Disangkal karya Muhammad Alfariezie menghadirkan lanskap batin yang sangat lirih dan reflektif, menyingkap hubungan manusia dengan alam semesta sekaligus menyorot kesunyian eksistensial yang kerap tak terlihat. Dalam puisi ini, dunia langit—bulan dan bintang—menjadi cermin bagi perasaan manusia, menghadirkan keheningan, kesendirian, dan ironi yang mengalir secara halus namun menyentuh pembaca secara emosional.

Hikayat Sinar yang Disangkal

Bulan datang dengan kesendirian
yang begitu-begitu saja meski
bintang sedang bahagia dalam
rahasianya. Mungkin karena
bulan enggak pandai memanfaatkan
ruang walau matahari telah banyak
memberi sejak pagi hingga senja.
Sepertinya, langit musykil memilih
bulan sebagai penghias termulia.
Bulan, pantas menjadi lahan
tambang China

Sejak baris pertama, bulan yang datang dengan kesendirian menjadi simbol kesunyian manusia yang terus mengulang rutinitas harian. Kesendirian bulan bukan sekadar fenomena kosmis, tetapi refleksi batin dari manusia yang merasa terisolasi atau tidak sepenuhnya diterima dalam lingkungannya. Kontras dengan bulan, bintang digambarkan sedang bahagia dalam rahasianya, menekankan perbedaan antara kehidupan eksternal yang tampak gemilang bagi orang lain dan kesunyian internal yang dialami seseorang.

Alfariezie menggeser lirisisme puisi ini ke ranah kontemplatif dengan menekankan ketidakmampuan bulan memanfaatkan ruang meski matahari telah banyak memberi. Hal ini menyiratkan rasa bersalah, kegagalan, atau ketidakmampuan manusia untuk memanfaatkan kesempatan yang ada. Matahari menjadi simbol peluang dan kebaikan yang hadir, tetapi bulan tetap merasa kurang atau tidak layak. Ungkapan ini menghadirkan ketegangan emosional yang kuat, memperlihatkan rasa ketidakberdayaan dan kesadaran akan ketidaksetaraan hidup.

Selanjutnya, baris langit musykil memilih bulan sebagai penghias termulia menambahkan lapisan ironi lembut yang tajam. Harapan akan pengakuan dan penerimaan seakan tertutup oleh realitas alam yang tidak berpihak. Lirisisme di sini bukan sekadar soal keindahan bahasa, tetapi juga medium untuk menyingkap ketidakadilan eksistensial dan perasaan inferioritas yang universal.

Puncak dari kejutan puisi ini hadir pada baris terakhir, bulan pantas menjadi lahan tambang China. Pergeseran mendadak dari lirisisme lembut ke realitas keras kapitalisme global menghadirkan kontras yang mengejutkan. Bahkan benda langit pun tidak luput dari logika eksploitasi dan perebutan sumber daya. Ironi ini menekankan bahwa kesunyian dan ketidakberdayaan manusia, seperti bulan, dapat menjadi objek perebutan atau kerugian dalam tatanan dunia yang keras.

Puisi ini juga mengajak pembaca merenungkan eksistensi diri, kesepian yang sering tersembunyi, dan ketidakmampuan menerima kebaikan atau pengakuan. Alfariezie menekankan bahwa keindahan alam dan pengalaman manusia tidak pernah sepenuhnya aman dari logika kekuasaan, eksploitasi, dan tekanan sosial. Lirisisme yang lembut namun penuh makna menenun refleksi mendalam mengenai ketidakadilan, ironi zaman, dan realitas kehidupan modern.

Hikayat Sinar yang Disangkal menjadi refleksi halus namun tajam mengenai kesendirian, ketidakberdayaan, dan kontras antara harapan dan kenyataan. Puisi ini menyadarkan pembaca bahwa bahkan hal-hal yang indah dan abstrak dalam hidup dapat mengalami tekanan, dan melalui keindahan bahasa, Muhammad Alfariezie menghadirkan kesadaran kritis terhadap kehidupan manusia dan dinamika sosial yang kompleks.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Hikayat Sinar yang Disangkalkritik sosial dalam puisilirisisme modernmuhammad alfarieziePuisi Indonesiapuisi kontemplatifpuisi reflektifSastra Lampung

Related Posts

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight
Bandar Lampung

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

March 16, 2026
SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung
Bandar Lampung

SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

February 2, 2026
Verifikasi SMA Siger berjalan, SMK swasta siapkan opsi pendidikan gratis
Bandar Lampung

Verifikasi SMA Siger berjalan, SMK swasta siapkan opsi pendidikan gratis

February 2, 2026
Pendidikan Gratis Jadi Tujuan Bersama, FKSS Minta Audiensi dengan Wali Kota
Bandar Lampung

Pendidikan Gratis Jadi Tujuan Bersama, FKSS Minta Audiensi dengan Wali Kota

January 31, 2026
Aktivis Kaitkan Preseden Pati dengan Polemik Anggaran SMA Siger
Bandar Lampung

Aktivis Kaitkan Preseden Pati dengan Polemik Anggaran SMA Siger

January 31, 2026
Pemerataan Pendidikan Dipertanyakan, SMA Siger Terima Anggaran Fantastis
Bandar Lampung

FKSS Bandar Lampung Dorong Dialog Pendidikan Gratis Tanpa Diskriminasi

January 31, 2026
Next Post
Hari Sabtu SDN 3 Rejomulyo Libur dan Pagar Rubuh, Warga Pertanyakan Transparansi dan Prosedur Pendidikan

Hari Sabtu SDN 3 Rejomulyo Libur dan Pagar Rubuh, Warga Pertanyakan Transparansi dan Prosedur Pendidikan

Most Popular

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

March 16, 2026
Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu

Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu

February 9, 2026
SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

February 2, 2026
MATAVIVO.ID

Matavivo.id adalah media online yang hadir dengan semangat pengawasan publik.

© 2025 - Matavivo.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus

© 2025 - Matavivo.id