MATA VIVO— Dunia musik klasik internasional akan disemarakkan oleh penampilan perdana puisi karya Isbedy Stiawan ZS, “Aku Tahu Namamu”, yang digarap menjadi komposisi musik oleh komponis dan pianis kenamaan Indonesia, Ananda Sukarlan. Premiere spektakuler ini akan digelar pada 10 Desember 2025 di Amfiteater Australian Institute of Music (AIM), Sydney, mempertemukan musik klasik, tembang puitik, dan warisan sastra Indonesia dalam satu panggung.
Ananda Sukarlan menjelaskan bahwa puisi “Aku Tahu Namamu” dipilih oleh mahasiswa vokal klasik AIM sebagai salah satu bahan penelitian dan resital akhir mereka. Salah satu vokalis yang tampil adalah mezzo-soprano Emma Norton, mahasiswi tingkat akhir yang akan menyelesaikan studinya pada Desember 2025. Emma akan membawakan karya Ananda Sukarlan yang belum pernah dipentaskan sebelumnya, menjadikannya world premiere, sekaligus memperkenalkan karya sastrawan Lampung yang mendapat julukan “Paus Sastra Lampung” oleh H.B. Jassin.
“Emma Norton akan menampilkan puisi ini sebagai pertunjukan perdana di dunia. Karya ini awalnya ditulis Isbedy saat dalam perjalanan ke Australia, dan baru dibahas di salah satu kuliah saya,” kata Ananda pada Kamis, 6 November 2025. Menurut Ananda, mengubah puisi menjadi komposisi musik membutuhkan pemahaman mendalam terhadap ritme, aksen bahasa Indonesia, dan nuansa puitik yang tersembunyi di setiap kata.
Residensi Ananda di Sydney sejak Juli 2025 di AIM sebagai Composer in Residence membawa dampak besar bagi musik dan sastra Indonesia. Komponis yang masuk daftar “Asia Most Influential” versi Tatler Asia ini membimbing mahasiswa dalam mendalami karya-karyanya, termasuk tembang puitik yang kini berjumlah lebih dari 500 karya. “Residensi ini tidak hanya memperkaya repertoar musik klasik di Australia, tetapi juga menjembatani budaya sastra Indonesia dengan dunia internasional,” ujar Ananda.
Dalam konser ujian akhir studinya, Emma Norton juga akan membawakan karya lain, “Aku Cinta Padamu” dari puisi Doddi Ahmad Fauji, penyair Jawa Barat dan ketua Koperasi Sastra Indonesia. Emma harus mempelajari bahasa Indonesia secara intensif untuk memahami arti, pelafalan, aksen, dan metafora puitik karya Ananda. Untungnya, Novita Jap, staf AIM yang juga pianis pendamping, membantu para vokalis mendalami bahasa dan interpretasi karya-karya Indonesia. Novita sendiri pernah menjadi finalis Ananda Sukarlan Award dan kini menjadi pendamping piano utama untuk resital ini.
“Saya berterima kasih kepada Novita karena perannya sangat besar dalam membantu mahasiswa vokal memahami karya Indonesia dengan benar. Keberadaan dia memungkinkan karya Ananda dibawakan dengan kualitas interpretasi tinggi,” jelas Ananda. Novita akan mendampingi Emma dalam pertunjukan mendatang, memastikan akurasi musik dan bahasa terpenuhi secara optimal.
Resital ini akan menjadi kolaborasi unik antara aria opera klasik, tembang puitik, dan elemen musik populer yang terinspirasi dari budaya rakyat. Emma Norton menambahkan, “Saya terinspirasi oleh musik folk karena lebih improvisasional dan kasual dibanding musik klasik, dan mampu menyatukan orang-orang. Karya-karya Ananda membawa nuansa Indonesia ke panggung internasional dengan cara yang unik dan hidup.”
Isbedy Stiawan ZS sendiri baru bertemu Ananda Sukarlan saat menyaksikan konser bersama soprano pemenang Ananda Sukarlan Award 2025, Ratnaganadi Paramita, pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII 2025 di Jakarta. Puisinya “Aku Tahu Namamu” mengangkat tema sosial, terinspirasi dari unjuk rasa di Rempang, Batam, yang memunculkan nama-nama tokoh penting di balik setiap pergerakan. “Di balik setiap aksi, ada seseorang — bernama. Nama itu berkibar-kibar, baik dari pihak penguasa maupun peserta aksi,” jelas Isbedy.
Selain penampilan di Sydney, karya Ananda lainnya juga akan dipentaskan di Taiwan pada minggu yang sama, 14 Desember 2025, oleh grup musik kamar Wohlklang di National Opera Taichung. Mereka akan memainkan “Ménage à Trois”, trio untuk flute, viola, dan piano, melengkapi program yang menampilkan karya Agustus Klughardt, Corrado Maria Saglietti, Yu Zhongyuan, dan Astor Piazzolla.
Perjalanan Emma dalam dunia musik klasik dimulai dari piano dan french horn, namun berkembang menjadi vokalis opera berpengalaman. Ia telah tampil dengan Western Australian Symphony Orchestra, paduan suara Sydney Philharmonia Choirs, dan berbagai ansambel jazz serta folk. Keikutsertaannya dalam premiere karya Ananda Sukarlan menjadi bukti bagaimana musik dan sastra Indonesia semakin diterima di panggung internasional.***










