• Tentang Kami
Saturday, March 28, 2026
MATAVIVO.ID
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus
No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus
No Result
View All Result
MATAVIVO.ID
No Result
View All Result
  • Hiburan & Gaya Hidup
  • Lingkungan & Energi
  • Olahraga
  • Pendidikan & Kesehatan
  • Politik & Pemerintahan
  • Sosial & Budaya
  • Teknologi & Digital
Muhammad Alfariezie Kritik Kepasifan Kolektif dalam Puisi Baru

Tumbuh di Celah Kekuasaan, Politik Sunyi dalam Puisi Muhammad Alfariezie

Melda by Melda
December 23, 2025
in Bandar Lampung

MATA VIVO- Puisi Tumbuh Menyelinap di antara Bening dan Keruh karya Muhammad Alfariezie muncul sebagai catatan reflektif tentang kehidupan warga yang berada di lorong-lorong kekuasaan. Mereka tidak berada di pusat sorotan, namun juga tidak sepenuhnya tenggelam dalam gelap. Alfariezie menghadirkan kritik sosial yang lembut namun tajam, dengan bahasa simbolik yang menyentuh pengalaman rakyat biasa yang hidup di tengah struktur kekuasaan yang kompleks.

Dalam puisinya, Alfariezie menggunakan simbol batu dan lumpur untuk menggambarkan keadaan negara dan praktik politik. Batu melambangkan struktur, hukum, dan institusi yang kokoh, sulit digoyahkan, dan kerap menindas. Sementara lumpur merepresentasikan praktik yang licin, manipulatif, dan menjerat mereka yang lemah. Subjek puisi berdiri waspada di antara keduanya, bukan untuk menentukan arah, melainkan untuk bertahan dan membaca tanda-tanda agar tetap selamat.

Frasa “di antara bening dan keruh” menjadi metafora demokrasi kontemporer yang abu-abu. Transparansi diumumkan, namun keputusan tetap samar. Kebenaran dipamerkan, namun dampaknya seringkali tidak dirasakan di akar rumput. Alfariezie tidak menuduh secara langsung, melainkan memilih posisi menyaksikan, menunjukkan bahwa dalam politik saat ini, bahaya terbesar bukan kebohongan yang terang-terangan, melainkan kebiasaan menerima ketidakjelasan yang berulang.

Metafora paling getir adalah rumput yang tak pernah berbunga apalagi berbuah. Rumput ini melambangkan rakyat yang bekerja keras namun tidak pernah diakui. Mereka menahan beban, menjadi penyangga dampak kebijakan, dan menerima konsekuensi dari keputusan yang datang dari atas. Rumput tetap ada, menampung hujan, yang di sini menjadi simbol kebijakan, krisis, dan keputusan yang selalu datang tanpa bisa dihindari.

Kata “menyelinap” menggambarkan strategi bertahan yang dipilih oleh rakyat. Diam bukan berarti setuju, tetapi merupakan cara untuk selamat dalam sistem yang keras dan tidak ramah. Alfariezie menunjukkan kecerdikan rakyat yang harus belajar bertahan, bukan melawan secara terbuka, sebagai respons yang lahir dari tekanan panjang dan terus menerus.

Tahun 2025 sebagai penutup puisi bukan sekadar formalitas, melainkan penanda zaman yang letih, ketika demokrasi berjalan tetapi keadilan sering tertinggal, dan ketika negara hadir namun tidak selalu melindungi. Puisi ini menjadi kesaksian kontemporer, mengingatkan bahwa kritik tidak selalu harus gaduh untuk efektif; ia bisa muncul melalui pengamatan sunyi dan bahasa simbolik yang tajam.

Kekuatan puisi Alfariezie terletak pada kesederhanaan dan ketidakmengguruiannya. Ia tidak menunjuk siapa yang salah, tidak menyebut nama, dan tidak mengibarkan slogan. Ia hanya menampilkan bagaimana hidup berlangsung di sela sistem, dan dari situlah pesan politik muncul. Tumbuh Menyelinap di antara Bening dan Keruh mengajarkan bahwa bertahan pun merupakan bentuk pernyataan politik, bahwa keberanian bisa sunyi, dan bahwa sebagian perlawanan terbaik adalah tetap tumbuh meski tanpa janji bunga atau buah.

Puisi ini menjadi pengingat bagi pembaca, terutama generasi muda, bahwa politik tidak selalu soal kemenangan besar atau pamer kekuatan. Kadang, bertahan dan menjaga eksistensi di dalam sistem yang keras sudah merupakan bentuk perlawanan yang paling nyata dan relevan. Muhammad Alfariezie menulis puisi sebagai medium refleksi kritis, membuka ruang bagi pembaca untuk memahami dinamika kekuasaan dari perspektif mereka yang berada di pinggiran sorotan, serta mengajak merenungi konsekuensi hidup di antara struktur dan praktik yang saling bertabrakan.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: BassDemokrasi KontemporerKritik Sosialmuhammad alfarieziePuisi PolitikSeni Sastra IndonesiaTumbuh Menyelinap

Related Posts

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight
Bandar Lampung

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

March 16, 2026
SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung
Bandar Lampung

SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

February 2, 2026
Verifikasi SMA Siger berjalan, SMK swasta siapkan opsi pendidikan gratis
Bandar Lampung

Verifikasi SMA Siger berjalan, SMK swasta siapkan opsi pendidikan gratis

February 2, 2026
Pendidikan Gratis Jadi Tujuan Bersama, FKSS Minta Audiensi dengan Wali Kota
Bandar Lampung

Pendidikan Gratis Jadi Tujuan Bersama, FKSS Minta Audiensi dengan Wali Kota

January 31, 2026
Aktivis Kaitkan Preseden Pati dengan Polemik Anggaran SMA Siger
Bandar Lampung

Aktivis Kaitkan Preseden Pati dengan Polemik Anggaran SMA Siger

January 31, 2026
Pemerataan Pendidikan Dipertanyakan, SMA Siger Terima Anggaran Fantastis
Bandar Lampung

FKSS Bandar Lampung Dorong Dialog Pendidikan Gratis Tanpa Diskriminasi

January 31, 2026
Next Post
Zulkifli Anwar Gelar Sosialisasi Empat Pilar di Lampung Selatan

Zulkifli Anwar Gelar Sosialisasi Empat Pilar di Lampung Selatan

Most Popular

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

March 16, 2026
Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu

Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu

February 9, 2026
SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

February 2, 2026
MATAVIVO.ID

Matavivo.id adalah media online yang hadir dengan semangat pengawasan publik.

© 2025 - Matavivo.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus

© 2025 - Matavivo.id