• Tentang Kami
Saturday, March 28, 2026
MATAVIVO.ID
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus
No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus
No Result
View All Result
MATAVIVO.ID
No Result
View All Result
  • Hiburan & Gaya Hidup
  • Lingkungan & Energi
  • Olahraga
  • Pendidikan & Kesehatan
  • Politik & Pemerintahan
  • Sosial & Budaya
  • Teknologi & Digital
Muhammad Alfariezie, Penyair Muda yang Kritik Doa dan Materialisme

Jalan Edeilweis, Perjalanan Pengetahuan dalam Puisi Muhammad Alfariezie

Melda by Melda
December 30, 2025
in Bandar Lampung

MATA VIVO- Puisi Jalan Edeilweis karya Muhammad Alfariezie menghadirkan refleksi tentang perjalanan manusia dalam mencari makna, pengetahuan, dan kebenaran, yang disampaikan melalui metafora jalan dan alam. Puisi ini menempatkan pembaca sebagai subjek kolektif “kita” yang diajak menyusuri proses eksistensial penuh risiko, keraguan, dan ketidakpastian.

Sejak larik pembuka, “Pelan-pelan kita jalan hingga sampai”, penyair menegaskan bahwa perjalanan tidak pernah instan. Kata “pelan-pelan” menjadi penanda sikap hati-hati, sekaligus kesadaran bahwa pencarian makna membutuhkan waktu dan keberanian. Namun, harapan akan tujuan langsung dipatahkan oleh larik berikutnya, “Di sana, bisa mati”, yang memperlihatkan paradoks: setiap tujuan selalu mengandung kemungkinan kegagalan dan kehilangan.

Alam dalam puisi ini—gunung, danau, sungai, dan edeilweis—tidak dihadirkan sebagai panorama romantis, melainkan sebagai simbol sumber daya, pengetahuan, dan kebenaran yang diidamkan manusia. Edeilweis, bunga yang sering diasosiasikan dengan keabadian, justru tumbuh di sisi jalan yang penuh belukar. Gambaran ini memperkuat gagasan bahwa makna tidak hadir di ruang nyaman, tetapi di wilayah terjal yang menuntut pengorbanan dan ketahanan mental.

Puisi ini juga menyuarakan kritik terhadap cara manusia memetakan realitas. Larik “Apalagi dalam peta, hanya sebatas simbol dan logika” menunjukkan penolakan terhadap pengetahuan yang semata-mata abstrak dan administratif. Peta menjadi metafora bagi sistem, teori, atau kebijakan yang sering kali menyederhanakan kenyataan, sementara realitas sesungguhnya bersifat dinamis, mudah “banjir atau mengering”, dan sulit dikendalikan.

Menariknya, penyair menyebut figur jurnalis, peneliti, dan polisi sebagai simbol praksis sosial. Ketiganya mewakili profesi yang dituntut untuk turun langsung ke lapangan, menghadapi risiko, dan menembus batas wacana. Namun tugas mereka bukan menemukan kebenaran mutlak, melainkan “mengungkap skeptis”, yakni membuka keraguan agar klaim-klaim mapan dapat diuji ulang secara kritis.

Pada bagian akhir, puisi bergerak ke wilayah eksistensial yang lebih dalam. Diskursus yang hanya “bicara bayang” digambarkan sebagai aktivitas verbal tanpa pijakan konkret. Di sisi lain, larik “ajal terlalu liar untuk diterjemah” menegaskan keterbatasan bahasa dan logika manusia dalam memahami kenyataan paling final: kematian. Di titik ini, puisi mengakui batas pengetahuan sekaligus mengajak pembaca bersikap rendah hati.

Secara bentuk, penggunaan larik pendek dan enjambemen yang terputus menciptakan ritme tersendat, selaras dengan tema perjalanan yang tidak mulus. Bahasa yang lugas dan nyaris reportorial membuat puisi ini terasa dekat dengan realitas sosial, sekaligus kuat secara reflektif.

“Banyak perkara berjalan, namun keadilan substantif belum terasa,” demikian semangat kritis yang sejalan dengan isi puisi ini—bahwa perjalanan menuju kebenaran tidak pernah selesai di tataran simbol. Jalan Edeilweis pada akhirnya bukan tawaran jawaban, melainkan ajakan etis: berani melangkah ke wilayah ketidakpastian, menghadapi risiko, dan menerima bahwa makna sejati hanya dapat ditemukan oleh mereka yang bersedia berjalan, meski jalannya terjal dan penuh kemungkinan kehilangan.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Analisis PuisiJalan EdeilweisKritik SosialMetafora Perjalananmuhammad alfarieziePuisi IndonesiaSastra Kontemporer

Related Posts

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight
Bandar Lampung

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

March 16, 2026
SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung
Bandar Lampung

SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

February 2, 2026
Verifikasi SMA Siger berjalan, SMK swasta siapkan opsi pendidikan gratis
Bandar Lampung

Verifikasi SMA Siger berjalan, SMK swasta siapkan opsi pendidikan gratis

February 2, 2026
Pendidikan Gratis Jadi Tujuan Bersama, FKSS Minta Audiensi dengan Wali Kota
Bandar Lampung

Pendidikan Gratis Jadi Tujuan Bersama, FKSS Minta Audiensi dengan Wali Kota

January 31, 2026
Aktivis Kaitkan Preseden Pati dengan Polemik Anggaran SMA Siger
Bandar Lampung

Aktivis Kaitkan Preseden Pati dengan Polemik Anggaran SMA Siger

January 31, 2026
Pemerataan Pendidikan Dipertanyakan, SMA Siger Terima Anggaran Fantastis
Bandar Lampung

FKSS Bandar Lampung Dorong Dialog Pendidikan Gratis Tanpa Diskriminasi

January 31, 2026
Next Post
Herdman Datang, Garuda Kehilangan Ikatan Emosional?

Herdman Datang, Garuda Kehilangan Ikatan Emosional?

Most Popular

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

March 16, 2026
Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu

Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu

February 9, 2026
SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

February 2, 2026
MATAVIVO.ID

Matavivo.id adalah media online yang hadir dengan semangat pengawasan publik.

© 2025 - Matavivo.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus

© 2025 - Matavivo.id