• Tentang Kami
Saturday, March 28, 2026
MATAVIVO.ID
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus
No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus
No Result
View All Result
MATAVIVO.ID
No Result
View All Result
  • Hiburan & Gaya Hidup
  • Lingkungan & Energi
  • Olahraga
  • Pendidikan & Kesehatan
  • Politik & Pemerintahan
  • Sosial & Budaya
  • Teknologi & Digital
Ketika Bahasa Menjadi Senjata: Muhammad Alfariezie dan Puisi Imaji Sosial-Politik yang Mengguncang Bandar Lampung

Ketika Bahasa Menjadi Senjata: Muhammad Alfariezie dan Puisi Imaji Sosial-Politik yang Mengguncang Bandar Lampung

Melda by Melda
October 22, 2025
in Bandar Lampung, Daerah

MATA VIVO— Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Bandar Lampung, kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam menggabungkan kecerdasan imajistik dengan kritik sosial-politik. Karya-karyanya tidak sekadar estetis, tetapi juga sarat makna moral, etika publik, dan komentar tajam terhadap fenomena sosial. Salah satu bukti paling menonjol adalah puisi berjudul Benih Khianat di Kota Merdeka, sebuah pamflet puitis yang menyuarakan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan di tingkat lokal.

Alfariezie tidak hanya menguasai realism satire yang biasa digunakan untuk mengekspos absurditas sosial, tetapi juga mampu menyisipkan citraan imaji abstrak yang memperkuat pesan moral dan politisnya. Melalui kekuatan imaji, ia berhasil menghadirkan peta visual kompleks tentang kondisi Kota Bandar Lampung, sekaligus mengajak pembaca merenungkan masa depan kota dan nilai-nilai kemerdekaan yang kian terancam oleh tindakan koruptif.

Benih Khianat: Imaji yang Menggugah

Puisi ini dibuka dengan baris tegas:

“Masa depan Bandar Lampung
enggak boleh tumbuh dari
benih-benih khianat wali kota”

Larik ini menghadirkan citraan yang jelas dan sarat makna. Kata “benih” bukan hanya simbol pertumbuhan, tetapi juga menggambarkan akar permasalahan — korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang bisa merusak masa depan. Frasa “benih khianat” menjadi metafora etis sekaligus visual, menekankan bahwa kemajuan kota tidak dapat lahir dari dasar yang rusak. Imaji ini langsung menempatkan pembaca dalam kesadaran kritis terhadap kebijakan dan tindakan politik yang salah arah.

Kontras Nasional dan Lokal

Dalam larik:

“Bandar Lampung bercita-cita
Sama dengan Indonesia”

Alfariezie menampilkan imaji nasional yang ideal. Kota ini bukan hanya entitas lokal, tetapi juga cerminan miniatur bangsa. Namun, idealisme tersebut dikontraskan dengan realitas suram:

“Kota ini terhina jika menjebak
siswa untuk enggak berijazah
demi ide penggila mencuil
duit negara”

Kontras ini menciptakan guncangan moral visual bagi pembaca. Pembaca seolah melihat dua wajah Bandar Lampung sekaligus: satu wajah ideal dan satu wajah yang korup dan manipulatif. Teknik ini menunjukkan kemampuan Alfariezie dalam menyeimbangkan estetika puisi dan kritik sosial-politik yang tajam.

Imaji Empati dan Luka Kolektif

Kata “kasihan” muncul dua kali dalam puisi, membangun citraan empatik yang kuat:

“Kasihan jika nanti sulit
membangun hijau klan digital”
“Kasihan bila ke depan terus
mengurus pra sejahtera”

“Imaji hijau klan digital” menghadirkan gambaran futuristik: kota modern, inklusif, dan berkelanjutan. Namun, kata “kasihan” menunjukkan penderitaan kolektif yang diakibatkan kebijakan busuk. Alfariezie berhasil menciptakan citraan yang tidak romantis, melainkan melankolis dan penuh peringatan moral.

Imaji Revolusi dan Energi Politik

Klimaks puisi ini muncul dalam larik:

“Kota ini merdeka bukan untuk
mereka yang bejat! Daulat
rakyat untuk kita yang hebat”

Imaji “Daulat rakyat” bukan sekadar retorika, tetapi simbol semangat revolusioner dan perlawanan terhadap penguasa yang menyeleweng. Frasa “kita yang hebat” menggarisbawahi peran kolektif masyarakat sipil dalam menegakkan keadilan dan moralitas publik. Puisi ini menekankan bahwa kemerdekaan sebuah kota bukan milik elit yang korup, tetapi milik rakyat yang sadar akan hak dan tanggung jawabnya.

Fungsi Imaji dalam Kritik Sosial

Dengan menghadirkan citraan seperti “benih khianat”, “hijau klan digital”, “kota merdeka”, dan “daulat rakyat”, Alfariezie mengubah bahasa menjadi senjata visual. Imaji tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga membangun kesadaran sosial-politik yang mendalam. Pembaca tidak sekadar membayangkan, tetapi merasakan luka, ketidakadilan, sekaligus harapan.

Struktur imaji dalam puisi ini bergerak dinamis: dari kritik individu (wali kota) → refleksi sosial (kota) → semangat kolektif nasional (rakyat). Pendekatan ini menunjukkan kemampuan penyair dalam memanfaatkan bahasa puitik sebagai alat perjuangan moral, sosial, dan politik.

Imaji Sosial-Politik sebagai Manifesto

Puisi Benih Khianat di Kota Merdeka membuktikan bahwa gaya imajistik bukan hanya hiasan, melainkan bahasa visual untuk menyampaikan pesan sosial-politik yang kompleks. Karya ini menjadi semacam manifesto etika publik dalam bentuk puitik, menegaskan bahwa kemerdekaan sejati sebuah kota hanya bisa tumbuh dari benih kejujuran, keberpihakan pada rakyat, dan integritas moral.

Muhammad Alfariezie berhasil menghadirkan identitas baru bagi kritik sastra Lampung: cerdas, tajam, dan imajistik. Karyanya mengajak pembaca menelaah, merenung, dan bertindak, membuktikan bahwa bahasa memang bisa menjadi senjata paling ampuh untuk perubahan sosial dan politik.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: BandarLampungImajistikKritikSosialMuhammadAlfarieziePolitikLokalPuisiLampung

Related Posts

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight
Bandar Lampung

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

March 16, 2026
Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu
Pringsewu

Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu

February 9, 2026
SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung
Bandar Lampung

SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

February 2, 2026
Verifikasi SMA Siger berjalan, SMK swasta siapkan opsi pendidikan gratis
Bandar Lampung

Verifikasi SMA Siger berjalan, SMK swasta siapkan opsi pendidikan gratis

February 2, 2026
Pendidikan Gratis Jadi Tujuan Bersama, FKSS Minta Audiensi dengan Wali Kota
Bandar Lampung

Pendidikan Gratis Jadi Tujuan Bersama, FKSS Minta Audiensi dengan Wali Kota

January 31, 2026
Aktivis Kaitkan Preseden Pati dengan Polemik Anggaran SMA Siger
Bandar Lampung

Aktivis Kaitkan Preseden Pati dengan Polemik Anggaran SMA Siger

January 31, 2026
Next Post
SMP 13 Bandar Lampung Heboh! Kasus Bullying Menghentak Publik, Nasib Gina Mengundang Empati

SMP 13 Bandar Lampung Heboh! Kasus Bullying Menghentak Publik, Nasib Gina Mengundang Empati

Most Popular

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

March 16, 2026
Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu

Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu

February 9, 2026
SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

February 2, 2026
MATAVIVO.ID

Matavivo.id adalah media online yang hadir dengan semangat pengawasan publik.

© 2025 - Matavivo.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus

© 2025 - Matavivo.id