• Tentang Kami
Saturday, March 28, 2026
MATAVIVO.ID
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus
No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus
No Result
View All Result
MATAVIVO.ID
No Result
View All Result
  • Hiburan & Gaya Hidup
  • Lingkungan & Energi
  • Olahraga
  • Pendidikan & Kesehatan
  • Politik & Pemerintahan
  • Sosial & Budaya
  • Teknologi & Digital
Kritik Marxis dalam Puisi Muhammad Alfariezie: Bayang Kapital, Kekuasaan, dan Ironi Rakyat

Kritik Marxis dalam Puisi Muhammad Alfariezie: Bayang Kapital, Kekuasaan, dan Ironi Rakyat

Melda by Melda
October 8, 2025
in Bandar Lampung

MATA VIVO– Puisi “Sembilan Miliar Kebodohan Kita” karya Muhammad Alfariezie menghadirkan kritik sosial-politik yang tajam terhadap ketimpangan ekonomi, korupsi struktural, dan dominasi birokrasi atas kehidupan rakyat. Melalui diksi satir dan ironi yang memikat, penyair asal Bandar Lampung ini menelanjangi praktik kekuasaan yang menindas rakyat kecil melalui regulasi dan kebijakan publik yang bersifat eksploitatif.

Dalam perspektif teori Marxis, puisi ini menggambarkan konflik kelas antara elit penguasa (borjuis birokratis) dan rakyat tertindas (proletariat). Bait-bait puisi menyoroti bagaimana alat negara berfungsi untuk melayani kepentingan kapital, bukan kesejahteraan masyarakat.

Puisi:

Sembilan Miliar Kebodohan Kita

Skandal harus tersingkir!
Bukan iri tapi karena peduli
harga satu regulasi bikin
kita gigit jari

Satu regulasi seharga tiga
mobil mewah bawaan kepala
sekolah! Bayangkan cuma
cuma bagi warga pra
sejahtera

Tapi kita bodoh lebih lagi malas
walau sebatas membayangkan

Kita justru senang susah payah
membopong-gelar karpet
merah untuk wali kota bikin
sekolah

Sekolah yang telah nyata
tidak peduli sembilan miliar

Bayangkan betapa kita
bodoh! Senang pula
membaca berita: “wali kota
bikin sekolah swasta untuk
keluarganya bahagia”

Bayangkan betapa kita
bodoh! 9 miliar sia-sia
ditambah dana hibah
untuk sekolah atas
namanya merogoh kas
negara

Bandar Lampung, 2025

Latar Sosial dan Kritik Kekuasaan

Bait awal puisi langsung menyinggung ketimpangan dan skandal birokrasi: “Skandal harus tersingkir! Bukan iri tapi karena peduli, harga satu regulasi bikin kita gigit jari.” Diksi “harga satu regulasi” menunjukkan bagaimana kebijakan publik dikomodifikasi, menjadi alat akumulasi kapital bagi elit birokrasi. Dalam kacamata Marxis, hal ini menegaskan bagaimana negara berfungsi untuk melayani kepentingan penguasa, bukan rakyat.

Korupsi dan Ketimpangan Kelas

Bait berikutnya menyindir gaya hidup mewah pejabat di atas penderitaan rakyat: “Satu regulasi seharga tiga mobil mewah bawaan kepala sekolah! Bayangkan cuma-cuma bagi warga pra sejahtera.” Gambaran ini menunjukkan jurang sosial yang lebar antara elit birokrasi dan warga miskin. Pendidikan, yang seharusnya menjadi alat pembebasan, justru berubah menjadi instrumen reproduksi ketimpangan sosial.

Rakyat Pasif dan Kesadaran Palsu

Puisi ini juga menyoroti rakyat yang pasif: “Tapi kita bodoh lebih lagi malas walau sebatas membayangkan.” Konsep ini selaras dengan ide Marxis tentang kesadaran palsu (false consciousness), di mana rakyat tidak menyadari penindasan yang mereka alami. Ironi muncul ketika rakyat ikut melanggengkan sistem ketidakadilan, seperti tertulis: “Kita justru senang susah payah membopong-gelar karpet merah untuk wali kota bikin sekolah.”

Eksploitasi Dana Publik

Puncak kritik muncul pada bait akhir: “Bayangkan betapa kita bodoh! 9 miliar sia-sia ditambah dana hibah untuk sekolah atas namanya merogoh kas negara.” Angka 9 miliar menjadi simbol eksploitasi ekonomi dan korupsi sistemik. Dana publik yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat justru dialihkan untuk kepentingan pribadi elit. Analisis Marxis menekankan bahwa ini merupakan bentuk akumulasi kapital melalui pemerasan nilai publik.

Simpulan: Puisi sebagai Alat Perjuangan

“Sembilan Miliar Kebodohan Kita” bukan sekadar karya estetika, melainkan alat kritik sosial dan ideologis. Puisi ini menelanjangi wajah kapitalisme birokratis, membangkitkan kesadaran kelas, dan menyeru pada aksi nyata. Pesan yang tersirat jelas: keadilan sosial tidak akan datang dari karpet merah kekuasaan, tetapi dari rakyat yang berani berpikir kritis dan bertindak untuk perubahan. Muhammad Alfariezie menegaskan, sastra bisa menjadi senjata ideologis untuk membangkitkan kesadaran dan memperjuangkan hak rakyat kecil.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: analisis sastraketimpangan sosialkorupsi birokrasikritik marxisliteratur Indonesiamuhammad alfarieziependidikan dan kekuasaanpuisi kritisrakyat kecilsastra sosial politik

Related Posts

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight
Bandar Lampung

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

March 16, 2026
SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung
Bandar Lampung

SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

February 2, 2026
Verifikasi SMA Siger berjalan, SMK swasta siapkan opsi pendidikan gratis
Bandar Lampung

Verifikasi SMA Siger berjalan, SMK swasta siapkan opsi pendidikan gratis

February 2, 2026
Pendidikan Gratis Jadi Tujuan Bersama, FKSS Minta Audiensi dengan Wali Kota
Bandar Lampung

Pendidikan Gratis Jadi Tujuan Bersama, FKSS Minta Audiensi dengan Wali Kota

January 31, 2026
Aktivis Kaitkan Preseden Pati dengan Polemik Anggaran SMA Siger
Bandar Lampung

Aktivis Kaitkan Preseden Pati dengan Polemik Anggaran SMA Siger

January 31, 2026
Pemerataan Pendidikan Dipertanyakan, SMA Siger Terima Anggaran Fantastis
Bandar Lampung

FKSS Bandar Lampung Dorong Dialog Pendidikan Gratis Tanpa Diskriminasi

January 31, 2026
Next Post
Nasdem dan Gerindra Senyap, Skandal Jual Beli Modul SMA Siger Terkuak, PKS Janji Tindak Lanjut

Nasdem dan Gerindra Senyap, Skandal Jual Beli Modul SMA Siger Terkuak, PKS Janji Tindak Lanjut

Most Popular

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

Dari Indonesia ke Thailand: Karya Kanvas Jadi Spotlight

March 16, 2026
Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu

Knalpot Brong hingga Pengendara di Bawah Umur Dominasi Pelanggaran di Pringsewu

February 9, 2026
SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

SMA Siger dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pemkot Bandar Lampung

February 2, 2026
MATAVIVO.ID

Matavivo.id adalah media online yang hadir dengan semangat pengawasan publik.

© 2025 - Matavivo.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Investigasi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini & Analisis
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Mesuji
    • Waykanan
    • Pringsewu
    • Tanggamus

© 2025 - Matavivo.id